bae sonde bae ..... yang penting beta menulis dan bercerita

Selasa, 20 Januari 2015

Sistim Tiga Strata (STS)



Sistem pertanian terpadu merupakan kegiatan memadukan pertanian dan peternakan. Salah satu contoh dari sitem pertanian terpadu adalah Sistem Tiga Strata (STS). Sistem tiga Strata merupakan suatu cara penanaman serta pemangkasan rumput, leguminosa, semak, dan pohon sehingga hijauan tersedia sepanjang tahun.
Sistem Tiga Strata (STS) merupakan suatu cara penanaman dan pemangkasan rumput, legumenosa, semak dan pohon, sehingga hijauan makanan ternak tersedia sepanjang tahun. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Dr. I Made Nitis, seorang pakar nutrisi hewan dari Universitas Udayana, Bali, bersama tim dari Balai Informasi Pertanian Bali, Departemen Pertanian. Dalam penerapannya, STS ini terjadi integrasi antara tanaman pangan, tanaman perkebunan, dan ternak.
Sistem Tiga Strata ini biasanya diterapkan pada pertanian lahan kering yang memiliki curah hujan kurang dari 1.500 mm per tahun dengan 8 bulan musim kering, dan 4 bulan musim hujan, atau bisa juga pada pertanian lahan kering dengan topografi yang datar ataupun miring, yang kurang produktif untuk pertanian pangan.
Pengadopsian sistem integrasi tanaman dan ternak sudah sejak dulu dilaksanakan oleh peternak Bali. Hanya, komoditi pertanian yang biasanya dikembangkan di lahan kering tersebut belum bisa mencapai produktivitasnya yang maksimal. Hal ini disebabkan tidak tersedianya lahan khusus bagi hijauan makanan ternak.
Dalam menerapkan STS, lahan yang dibutuhkan adalah 2.500 meter persegi, yang terdiri dari 3 bagian, yaitu:
1.      Bagian inti seluas 1.600 meter persegi,
2.      Bagian selimut 900 meter persegi,
3.      Bagian paling pinggir mempunyai keliling 200 meter.

Bagian Inti
Bagian inti adalah lahan yang terletak di tengah-tengah unit. Lahan ini tetap ditanami tanaman pangan seperti jagung, cabe, kacang tanah. Tata cara penanaman pada bagian inti ini adalah seperti yang biasa dilakukan oleh petani.

Stratum I

Bagian selimut adalah lahan yang berada diantara bagian inti dan bagian pinggir. Pada Bagian selimut ini ditanami rumput seperti bafel, urokloa dan panikum, serta leguminosa seperti sentrosemia, stelo verano dan stelo skabra.
Jenis rumput dan legume unggul ini tahan terhadap kekeringan.  Rumput dan legume ditanam selang seling berkeliling pada pinggiran petak dan ditanam berlarik.   Pada bagian selimut ini dibuat petak-petak berukuran panjang 9 m dan lebar 5 m.  Pada petak-petak ini dibuat larikan berjarak 10 cm dengan kedalaman 1 cm untuk ditanami biji rumput dan legume.  Larikan dibuat tegak lurus dengan kemiringan lahan sehingga biji tanaman tidak dihanyutkan air hujan. 
Rumput Panicum ditanam dekat Centrocema karena Panicum yang tumbuh tegak merupakan panjatan bagi centrocema yang menjalar.  Panikum dan centro dapat ditanam dekat pagar karena tahan terhadap naungan.  Selain itu centro dapat juga ditanam di pagar karena sifatnya yang tahan naungan dan membelit.   Rumput bufel dan urokloa tumbuh bagus di daerah terbuka, karena tidak tahan naungan.  Oleh karena itu ditanam jauh dari pagar.± 2,5 m atau lebih dari pagar (Suarna, 1990).  Jenis legume stylo verano jangan ditanam di dekat pagar karena tidak tahan naungan.  Untuk mendapatkan produksi yang tinggi stylo verano ditanam dekat centrocema karena fiksasi N oleh centrocema akan berpengaruh positif terhadap stylo verano. Kehadiran legume pada STS sangat penting karena pada akar legume dijumpai adanya bintil-bintil zat lemas (nodul akar) yang mengandung bakteri yang dapat memfiksasi N atmosfer sehingga dapat menambah kesuburan lahan.

Stratum II
Semak yang dapat dipakai adalah gamal dan lamtoro. Kedua jenis semak ini tahan kekeringan, produksi tingginya, bernilai gizi tinggi dan mudah dikembangbiakan. Cara penanamannya adalah ditanam berselang-seling sebagai pagar dari petak dengan jarak 10 cm, Perkembangbiakan gamal dilakukan dengan stek.  Gamal ditanam dengan kedalaman 25 cm dan lebar 25 cm. Sedangkan lamtoro yang ditanam adalah bijinya, sedalam 5 cm. Gamal dan lamtoro mempunyai perakaran yang dalam, lebat dan kuat sehingga dapat menahan tanah dan kerikil dari kikisan air hujan.  Cabang yang banyak dengan daun yang lebat merupakan kanopi yang baik untuk menahan air hujan, sehingga mengurangi sentakan air hujan yang jatuh ke tanah.  Daun yang gugur pada musim kering, merupakan humus yang dapat menyerap air hujan, sehingga mengurangi air hujan yang merembes mengikis tanah.  Pada lahan miring semak berfungsi menahan kerikil besar dan batu yang mengelinding dihanyutkan oleh air hujan. Diantara kedua jenis semak ini, naungan lamtoro memberikan efek yang lebih bagus daripada gamal terhadap produksi hijauan yang ada dibawahnya. Rumput Bufel yang tidak tahan naungan ditanam dekat dengan lamtoro akan memberikan hasil yang lebih bagus dibandingkan dengan gamal. Hal ini berkaitan dengan perbedaan morfologi daun sehingga jumlah sinar yang dapat dilewatkan lebih banyak oleh lamtoro dibandingkan gamal.

Stratum III
Bagian pinggir adalah bagian paling luar yang sekaligus menjadi batas keliling dari satu unit STS. Jenis-jenis Pohon yang biasa ditanam adalah Bunut, Santan dan Waru ditanam pada jarak 5 meter di sekeliling unit tersebut. Di antara 2 pohon tersebut ditanami 50 Gamal, dan diantara 2 pohon berikutnya ditanami Lamtoro atau akasia vilosa dengan jarak tanam 10 centimeter. Dengan demikian setiap unit STS akan dikelilingi pagar hidup yang terdiri atas 100 semak Gamal dan 1.000 semak Lamtoro, yang merupakan stratum kedua. Sedangkan sebanyak 14 pohon Bunut, 14 pohon Santan dan 14 pohon Waru merupakan stratum ketiga. Setelah semua jenis pohon tersebut ditanam sesuai dengan masing-masing stratum-nya, maka setiap 2.500 meter persegi STS akan terdapat 1.600 meter persegi tanaman pangan, 600 meter persegi rumput dan leguminosa, 2.000 semak dan 42 pohon. 
Ketiga stratum (lapis) yang ada dalam unit STS, masing-masing mempunyai peran atau fungsi tertentu. Stratum dua dan stratum tiga berfungsi sebagai pagar hidup, sehingga babi hutan yang selama ini menjadi hama bagi petani maupun hewan ternak sukar mengganggu tanaman pangan di dalam unit STS. Selain itu juga berfungsi sebagai penahan angin kencang yang dapat merusak tanaman pangan.
Stratum satu berperan sebagai lahan penyedia makanan bagi ternak, sehingga menghalangi ternak merusak tanaman pangan kalau pagar (stratum dua) ditembus oleh ternak. Pada lahan miring, stratum ini bisa menahan laju aliran air hujan sehingga kesuburan tanah dapat dipertahankan (bintil-bintil nitrogen pada akar leguminosa ikut menambah kesuburan tanah).

Manfaat STS
Meningkatkan persediaan dan mutu hijauan makanan ternak
Setiap unit STS terdapat 900 meter persegi rumput dan leguminosa, 2.000 semak dan 42 pohon. Dengan demikian, setiap unit STS akan meningkatkan persediaan hijauan sebesar 48 persen. Daun legumenosa sentrosema, stelo skabra dan stelo verano pada stratum satu; daun gamal, akasia velosa dan lamtoro pada stratum dua mengandung protein 18–25 persen. Secara keseluruhan untuk tiap unit, mutu pakan hijauan kan meningkat 10–15 persen.

Menyediakan hijauan sepanjang tahun
Dengan memotong stratum satu pada musim hujan, stratum dua pada pertengahan musim kering dan stratum tiga pada akhir musim kering, maka akan tersedia hijauan makanan ternak sepanjang tahun.

Mempercepat pertumbuhan dan reproduksi ternak
STS mampu mengurangi waktu memelihara ternak. Karena pakan selalu tersedia, maka ternak tidak perlu digembalakan lagi sehingga waktu yang digunakan untuk menggembala selama 20–25 menit per harinya dapat digunakan untuk kegiatan lainnya.

Meningkatkan daya tampung
Dengan banyaknya persediaan hijauan makanan ternak, maka ternak yang dipelihara bisa bertambah banyak. Satu unit STS dapat menampung satu ekor sapi atau 6 ekor kambing.

Meningkatkan kesuburan tanah
Pada sistem peternakan tradisional, sapi digembalakan pada waktu siang hari, sehingga kotorannya tersebar tidak teratur. Sedangkan STS, sapi dikandangkan sehingga kotorannya dapat disebarkan merata pada lahan yang ditentukan. Akar-akar sentrosema, stelo verano, stelo skabra, gamal, lamtoro dan akasia vilosa mengandung bintil-bintil nitrogen, yang dapat melepaskan nitrogen untuk tanaman di sekitarnya. Sedangkan akar dan daun rumput, semak dan pohon yang melapuk juga bisa meningkatkan humus tanah.

Mengurangi erosi
Bagian selimut dan pinggir dari STS dapat menahan air hujan di atas tanah sehingga tidak mengalir dengan deras. Dengan demikian tanah dan batu-batu kecil tidak dihanyutkan oleh air, sehingga erosi pada tanah miring dapat dikurangi sebesar 45 persen.

Menyediakan bibit untuk perluasan STS
Cabang-cabang semak dan pohon yang baik dapat dijadikan stek, rumput dan leguminosa dapat disapih, atau yang meluas ke bagian inti dapat dicabuti untuk membuat STS yang baru. Pada tahun ketiga, setiap unit STS dapat dikembangkan menjadi 1–2 STS lagi.

Merangsang timbulnya kegiatan penunjang
Rumput dan legumenosa pada stratum satu, semak pada stratum dua, dan pohon pada stratum tiga berbunga secara bergantian. Bunga ini menyediakan tepung sari dan nektar untuk peternakan lebah madu.

Menyediakan Kayu Bakar dan kayu
STS juga berfungsi sebagai penyedia kayu bakar bagi kebutuhan rumah tangga. Setiap pemangkasan semak ataupun pepohonan, daun-daunnya bisa digunakan untuk pakan ternak sedangkan cabang-cabangnya dikeringkan untuk dijadikan kayu bakar. Satu unit STS mampu menyediakan kayu bakar sebanyak 1,6–4,2 ton per tahun. Di samping itu, semak maupun pohon merupakan tanaman keras (berkayu) yang baik untuk pagar permanen dan sebagai bahan untuk pembuatan rumah.
©johnberek99.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar