bae sonde bae ..... yang penting beta menulis dan bercerita

Senin, 19 Januari 2015

Parasetamol Mempercepat Sifat pengeraman Ayam



Ayam kampung /ayam buras (Gallus domesticus) adalah sebutan di Indonesia bagi ayam peliharaan yang tidak ditangani dengan cara budidaya massal komersial serta tidak berasal-usul dari galur atau ras yang dihasilkan untuk kepentingan komersial tersebut.
Ayam kampung berasal dari keturunan ayam hutan merah (Gallus gallus) yang telah mengalami domestikasi.
Biasanya cara beternak ayam buras dilakukan secara bebas atau umbaran, dimana induk jantan dan betina dibiarkan hidup bebas berkeliaran sedangkan anak ayam yang belum kuat dipelihara di dalam kandang atau kurungan. Model cara pemeliharaan seperti ini mengharuskan ayam untuk mencari pakan sendiri. Apabila ternak diberi pakan itupun sesekali saja dan sebatas pada pakan seadanya seperti dedak, dedaunan, dan limbah sisa dapur.
Pola pemeliharaan seperti ini banyak kita jumpai di lingkungan pedesaan. Hal ini didasari antara lain belum sampainya pengetahuan kepada sebagian masyarakat tentang model pemeliharaan lainnya dan didukung pula oleh lingkungan seperti pekarangan rumah atau areal persawahan yang masih luas. Pola ini memiliki sisi kelemahan antara lain kesulitan dalam hal kontrol penyakit, keamanan yang kurang seperti ayam mudah tertabrak kendaraan, dicuri atau dimangsa binatang liar, tingkat produksi masih sangat rendah, tingkat kematian yang cukup tinggi (tanpa dilakukan vaksinasi).
Tingkat reproduksi ayam yang dipelihara dengan model ini paling sekitar 3 siklus, dengan produksi telur masih sekitar 40-50 an butir/tahun. Mengapa rendah? Karena proses reproduksi ayam masih sangat tergantung pada naluri induk ayam untuk melepas atau menyapih anak sebelum tiba saat bertelur kembali. Rata-rata dibutuhkan waktu sekitar 120-an hari per siklus dengan rincian sebagai berikut : 20 hari masa bertelur, 21 hari masa mengeram, 60 hari masa mengasuh anak, dan 20 hari masa istirahat.
Parasetamol yang merupakan obat dalam bentuk tablet yang mengandung “asetaminoven” dan biasa digunakan untuk mengurangi rasa sakit dan menurunkan suhu tubuh pada manusia ternyata dapat dimanfaatkan pula untuk mempercepat masa pengeraman pada ayam buras.
Hasil penelitian di BLLP Poultry Ciawi, Bogor menunjukkan bahwa masa pengeraman ayam buras yang biasanya selama 21 hari, maka dengan pemberian Parasetamol melalui mulut (per oral) dapat mempercapat hilangnya sifat pengerama/mengeram 11 sampai 19 hari.
Dosis yang diberikan untuk induk ayam buras adalah 60-65 mg/ kg BB. Lebih mudahnya, induk ayam buras tipe besar yang beratnya ± 2 kg dapat diberikan ¼ tablet parasetamol 500mg.
Dari hasil penelitian tersebut bahwa dengan parasetamol sifat mengeram induk ayam buras dapat hilang setelah pemberian selama 6 s/d 11 hari, sehingga rata-rata untuk menghilangkan sifat mengeram tersebut diperlukan 2 tablet parasetamol 500 mg.
Selamat mencoba…..
©johnberek99.blogspot.com

Kamis, 15 Januari 2015

Perbedaan Daging Se'i dan Daging Bakar



Hampir di setiap sudut jalan di Kota Kupang kita sering menjumpai Rumah Makan Babi yang selalu setia menyajikan salah satu pilihan menu special yakni “Se’i Babi”.
Kata Se’i berasal dari bahasa Rote, yaitu daging yang diiris tipis memanjang. Umumnya daging Se’i dibuat dari daging babi atau daging sapi. Hal ini disebabkan kedua daging tersebut mudah di dapat.
Namun kadang kala penyedia/konsumen salah kaprah dalam menyebut dan tidak dapat membedakan antara daging se’i dan daging bakar akibat ketidaktahuan penyedia/konsumen. Kadangkala konsumen memesan daging se’i namun yang disajikan adalah daging bakar.
Untuk diketahui bahwa daging se’i adalah daging yang mempunyai ciri khas yang tersendiri, karena  daging diolah secara tradisional dengan dipotong memanjang dengan 2-3 cm lebarnya, lalu diolah dengan pemberian garam dan sedikit rempah rempah/bumbu sesuai dengan ciri khas penjualnya dan dilanjutkan dengan pengasapan dengan menggunakan kayu kosambi (Schleichera oleosa) karena pada kayu dan daun kosambi mengandung “serpente” yang membuat daging menjadi empuk dan berwarna kemerahan.
Daging se’i di asapkan di atas tungku pembakaran yang tingginya ± 1 – 1½ meter dengan menggunakan bara api (bukan api yang menyala). Apabila menggunakan api yang menyala, maka disebut dengan daging bakar, sehingga warnanya merah agak kehitaman seperti hangus.
Itulah sekilas perbedaan antara daging se’i dan daging bakar yang perlu anda ketahui, agar anda sebagai konsumen tidak diperdaya oleh penyedia dan anda tidak salah memesan kepada penyedia.
©johnberek99.blogspot.com

Rabu, 14 Januari 2015

Cara Membuat Pupuk Bokhasi Skala Rumah Tangga



Bokashi adalah Bahan Organik Kaya akan Sumber Hayati. Bokashi merupakan hasil fermentasi bahan organik dari limbah pertanian (pupuk kandang, jerami, sampah, sekam serbuk gergaji, rumput dll.) dengan menggunakan EM-4. EM-4 (Efektif Microorganisme-4) merupakan bakteri pengurai dari bahan organik yang digunakan untuk proses pembuatan bokashi, yang dapat menjaga kesuburan tanah.
Bokashi dipopulerkan pertamakali di Jepang sebagai pupuk organik yang bisa dibuat dengan cepat dan efektif. Nama bokashi diambil dari istilah bahasa Jepang yang artinya perubahan secara bertahap. Sedangkan EM4 merupakan jenis mikroorganisme dekomposer untuk membuat pupuk bokashi. EM4 dipopulerkan oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Jepang.
Proses pembuatan pupuk bokashi relatif lebih cepat dari pengomposan konvensional. Bokashi sudah siap dijadikan pupuk dalam tempo 1-14 hari sejak dibuat, tergantung dari bahan baku dan metode yang digunakan. Membuat bokashi sangat mudah, bisa dilakukan dalam skala rumah tangga maupun skala pertanian yang lebih besar. Berikut ini kami jelaskan tahap-tahapnya.

Menyiapkan Mikroorganisme Dekomposer (EM4).
Pertama yang harus dilakukan untuk membuat pupuk bokashi adalah menyiapkan mikroorganisme dekomposernya. Salah satu dekomposer bokashi yang paling populer adalah EM4. Larutan EM4 terdiri dari mikroorganisme yang diisolasi secara khusus untuk menguraikan sampah organik dengan cepat. Mikroorganisme yang terkandung dalam EM4 terdiri dari bakteri fotosintesis, bakteri asam laktat (Lactobacillus sp), Actinomycetes dan ragi.
EM4 dijual dipasaran dalam bentuk cairan kental yang telah dikemas dalam berbagai ukuran.
Untuk membuat dekomposer bokashi, cukup mengencerkan cairan tersebut dan mencampurkannya dengan bahan baku bokashi.
Cairan mikroorganisme efektif (EM) dapat dibuat sendiri dengan cara :
·         Siapkan bahan-bahan berikut: pepaya dan kulitnya 0,5 kg, pisang dan kulitnya 0,5 kg, nenas dan kulitnya 0,5 kg, kacang panjang segar 0,25 kg, sayuran hijau (kangkung/bayam) 0,25 kg, gula pasir 1kg dan ragi tape 5 butir.
·         Campur pepaya, nenas, pisang, kacang panjang dan sayuran dan lumatkan bahan-bahan tersebut dengan blender.
·         Masukkan bahan-bahan yang telah dilumat kedalam ember yang ada penutupnya. Lalu tambahkan 1 liter air, gula pasir dan ragi tape. Aduk perlahan hingga merata. Kemudian tutup ember dengan rapat, diamkan selama 7 hari.
·         Setelah tujuh hari akan terbentuk cairan berwarna coklat gelap. Saring cairan tersebut, air hasil saringan merupakan larutan efektif mikroorganisme (EM) yang bisa dijadikan dekomposer pupuk bokashi. Simpan cairan dalam wadah/botol. Larutan EM bisa dipakai hingga 6 bulan, sedangkan ampasnya bisa digunakan sebagai kompos.

Membuat pupuk bokashi skala rumah tangga.
Pupuk bokashi bisa dibuat dalam skala rumah tangga dengan memanfaatkan limbah dapur atau sisa makanan. Bokashi dari hasil daur ulang sampah bisa digunakan untuk memupuk tanaman pekarangan. Penggunaannya sama dengan penggunaan pupuk organik yang dijual dipasaran. Berikut tahapan membuatnya:
·        Siapkan bahan-bahan berikut: sisa sayuran, buah-buahan, sisa makanan (nasi, roti, dll), tulang ikan, tulang ayam, 5 kg dedak/serbuk gergaji, 5 kg arang sekam, 10 ml EM4 dan dua sendok gula pasir.
·         Siapkan satu tong plastik ukuran 200 liter. Buat lubang bagian bawahnya untuk mengeluarkan cairan hasil pengomposan. Cairan ini berguna sebagai pupuk organik cair.
·       Potong atau rajang material organik menjadi potongan kecil, campurkan dengan dedak/serbuk gergaji dan arang sekam.
·      Encerkan 10 ml larutan EM4 dengan 1 liter air, tambahkan dua sendok gula pasir. Kemudian siramkan pada campuran bahan baku tadi.
·         Tutup rapat tong plastik, apabila suhu melebihi 45oC. Abila warna dan teksturnya sudah seperti tanah, itu tandanya pupuk bokashi sudah terbentuk. Prosesnya kira-kira 5-7 hari.

Cara Penggunaan
Untuk tanaman buah-buahan/bunga, bokashi disebar merata di permukaan tanah/perakaran tanaman. Penyiraman dengan EM 4 (2 cc EM4/Liter ) dilakukan tiap 2 minggu sekali.
©johnberek99.blogspot.com

Selasa, 13 Januari 2015

Proses Pembentukan Telur pada Ayam




Struktur Telur
Telur tersusun dari kuning telur (yolk), putih telur (albumen), kerabang tipis dan kerabang telur serta beberapa bagian lain yang cukup komplek. Sebutir telur dengan berat 60 g mempunyai garis tengah (lingkaran ekuator) 4,2 -5,8 cm dan lingkaran membujur 13-16 cm. Isi telur 55 cm3 dengan luas permukaan 70 cm2.
Struktur Telur Ayam

Pembentukan telur yang normal, memerlukan waktu berkisar antara 25-26 jam, terdiri atas berbagai tahapan sebagai berikut:
 
Alat Reproduksi pada Ayam
 Tahap I. Ovarium
Terbentuknya telur dimulai dengan terbentuknya kuning telur didalam ovarium. Sel telur yang dihasilkan didalam ovarium ini jumlahnya mencapai ribuan dalam berbagai ukuran, diantaranya 4 buah besar dan 1 buah paling besar. Sel telur yang paling besar berwarna keputihan, disebut folikel. Folikel sebagai sel telur yang sudah dewassa tersebut kemudian dilepas secara berurutan.

Tahap II. Infundibulum
Kuning telur yang dilepaskan ovarium diterima oleh infundibulum. Didalam infundibulum, kuning telur tinggal selama 15-20 menit saja, tanpa adanya penambahan unsur lain.
Selama waktu tersebut dimungkinkan terjadinya pembuahan karena spermatozoids tersimpan pada daerah glandula spermatik yaitu pada zona radiata dan lapisan perivitelin dari leher infundibulum. Dari infundibulum kuning telur mengalami penetrasi ke magnum dan kuning telur berada di bagian ini selama 3,5 jam. Selama waktu tersebut maka kuning telur terbungkus oleh putih telur.

Tahap III. Magnum
Pada saat kuning telur berada didalam magnum, terjadi penambahan unsur lain, berupa putih telur yang terdiri atas 88% air dan 11% protein (90% bahan kering atau kurang lebih 4 g protein/telur), mineral (6% bahan kering), glukosa bebas (3,5% bahan kering) dan sama sekali tidak terdapat lipida. Didalam magnum, kuning telur tinggal selama 3 jam.

Tahap IV. Isthmus
Kerabang telur terdiri dari dua bagian yaitu kerabang tipis (membran) baik luar dan dalam yang dihasilkan oleh ithmus dan kerabang telur keras. Tebal kerabang telur 300 mm.  
 Kerabang telur terdiri dari Bahan kering 98,4% dan air 1,6%. Bahan kering terdiri dari protein 3,3% dan mineral 95,1% . Diantara mineral yang paling banyak terdapat di kerabang telur adalah CaCO3<98,43%). MgCO3 (0,84%) dan Ca3(PO4)2 (0,75%).
Telur tinggal didalam isthmus selama kurang lebih 1,25 jam.

 Tahap V. Uterus
Telur yang tinggal didalam uterus selama 20-21 jam. Didalam uterus inilah telur disempurnakan, hingga mendapat cairan putih yang tipis melalui membran secara difusi dan terbungkus oleh bahan keras yang disebut kerabang.

Tahap VI. Kloaka
Telur yang sudah sempurna, dikeluarkan melalui kloaka. Rongga udara telur terbentuk diluar tubuh ayam, yakni 1-2 jam setelah telur tersebut dikeluarkan. Hal ini terjadi karena adanya perubahan temperatur.
©johnberek99.blogspot.com