bae sonde bae ..... yang penting beta menulis dan bercerita
Tampilkan postingan dengan label opiniku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opiniku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2019

KAKA..... GAS KO REM

Gas ko Rem (gas atau rem) merupakan istilah gaul yang lagi viral terutama dikalangan anak-anak dan remaja di kota Kupang. Pertama kali saya membaca istilah  ini tertulis di belakang salah satu angkot Kupang. Saya tidak tahu, siapa yang pertama kali meluncurkan istilah ini. Saya mencoba melakukan penelusuran ke berbagai jenis media sosial, ternyata banyak sekali istilah ini digunakan. Sebuah video lagu Gas ko Rem yang di upload oleh In The Man Channel pada channel Youtube berdurasi 4.56 menit milik Bass Chutter Revolution yang dinyanyikan oleh Amobe ITM, sekilas saya menyimak syair lagunya, ternyata sarat kritikan sosial. Lagu tersebut mengambarkan bagaimana laki-laki atau perempuan tidak mau kalah, begitu mendapat masalah langsung viral di sosial media apalagi yang muat itu perempuan. Pada durasi menit ke-2.00 terlihat seorang wanita yang bertanya entah kepada siapa bahwa “beta pung pacar ajak pi kost, kermana be gas?”. Lagu ini sedikit menggambarkan bagaimana perilaku masyarakat kita dalam cara menggunakan media sosial tidak secara bijak, dan menyikapi permasalahan yang dihadapi.
Pada video yang lain yang diupload oleh Arnold Pandie pada chanel Youtube terlihat seorang anak seumuran anak SMP sedang merapikan rambutnya dan terlihat caption “style ganteng mau ketemeuan, Gas ko Rem”.
Dari kedua video yang saya nonton lebih menggambarkan tentang kritikan sosial. Video pertama mau menunjukkan bahwa seakan-akan media sosial adalah tempat untuk saling curhat, dan tempat menyelesaikan masalah, serta tempat untuk melampiaskan kekesalan, entah itu tentang keluarga, pekerjaan, pertemanan, dll.
Media sosial bila digunakan secara positif, bermanfaat kepada saling memperat tali silaturahmi antar keluarga, saudara dan teman-teman, serta saling tukar menukar informasi, atau menemukan kawan/teman/saudara yang sudah lama tidak berjumpa/bertemu.
Namun bila salah memanfaatkan media sosial maka :
Media sosial dapat menghancurkan keluargamu.
Media sosial dapat menghancurkan rumah tanggamu.
Media sosial dapat menghancurkan suami/istri/anak-anakmu.
Media sosial dapat menghancurkan masa depanmu.
Media sosial dapat menghancurkan kariermu.
Bila disimak lebih dalam, lagu Gas ko Rem tidak saja merupakan bentuk kritikan sosial terhadap kelompok masyarakat tertentu saja, namun juga pada para kaum birokrat. Ketika “Mengikuti apel pagi", Gas ko Rem? atau " Memberikan palayanan bermutu dan transparan" Gas ko Rem?
Menurut saya, Gas lebih mengarah kepada hal-hal yang positif, sedangkan Rem lebih kepada hal-hal yang negatif. Oleh sebab itu hendaklah kita harus menginjak rem bila sesuatu yang akan kita lakukan dapat merugikan atau membahayakan hidup atau masa depan kita dan keluarga, namun kita juga harus tancap gas bila sesuatu yang kita perbuat/lakukan mendatangkan kebahagiaan bagi kita dan keluarga.
Kaka….. Gas ko Rem ? Kaka ator sa, karena keputusan ada pada Kaka!

©john berek99.blogspot.com

Selasa, 18 Juli 2017

PARADE 1001 KUDA SANDALWOOD : INTEGRASI TERNAK (KUDA)-PARIWISATA


Foto : merahputih.com

Kuda (Equus caballus) telah dikenal manusia sejak 5.500 tahun yang lalu. Pada jaman itu, kuda digunakan sebatas pengangkut barang, penarik pedati dan sebagai hewan tunggangan bagi para raja-raja dan para bangsawan.
Pada jaman kerajaan-kerajaan tua di Indonesia seperti Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram, kediri, dan Majapahit, kuda berperan sebagai hadiah dari raja kepada rakyat yang berjasa bagi raja, sebagai barang niaga atau komoditi ekonomi yang sudah diperdagangkan/dibarterkan, dan sebagai tenaga pembantu manusia dalam bidang transportasi.
Ketika Belanda menduduki Indonesia, perhatian VOC pada usaha peternakan kuda lebih banyak. Hal ini penting bagi VOC untuk kepentingan tentara Belanda, dimana kuda dimanfaatkan sebagai kendaraan perang/kavaleri.
Pada saat itu juga Pemerintah Hindia Belanda mendatangkan kuda-kuda dari Arab, Persia, dan Australia  untuk disilangkan dengan kuda asli Indonesia.
Pemerintah Hindia Belanda juga mendirikan pusat pembibitan ternak kuda di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya ada di pulau Sumba. Hasil persilangan (grading up) antara kuda pony  yang merupakan kuda asli dengan kuda arab menghasilkan kuda Sandalwood yang dikenal hingga sekarang.
Saking populernya kuda Sandalwood, tak heran jika aktor Hollywood kawakan, Brad Pitt, pernah membeli enam ekor kuda Sandalwood untuk anak-anaknya. Meskipun mungkin yang dibeli Brad Pitt bukan berasal dari Pulau Sumba, namun artinya jenis kuda ini cukup populer dan diminati banyak orang. Para pembelinya memang kebanyakan dari kalangan menengah ke atas yang ingin menjadikannya sebagai koleksi atau sebagai hadiah imut untuk anak-anak mereka.
Pos Kupang, Minggu, 16 Juli 2017 memuat pendapat dari praktisi budaya Sumba Pater Robert Ramone CSsR, bahwa kuda bagi masyarakat Sumba berperan sebagai alat transportasi untuk mengantar manusia/barang dari satu kampung ke kampung lain yang belum ada jalan yang dilewati kendaraan umum, sebagai belis perempuan, serta untuk dipotong/sembelih pada saat upacara pemakaman. Sedangkan menurut Bupati Sumba Barat  Agustinus Niga Dapawole, kuda merupakan lambang keperkasaan, tontonan pada saat pasola dan pacuan kuda. (Pos Kupang, Minggu, 16 Juli 2017).
Ternyata peranan ternak kuda bukan saja sebatas seperti yang disebut diatas, namun dapat  diintegrasikan dengan pertanian, dimana hasil ikutan dari limbah pertanian digunakan untuk meningkatkan produktivitas dari ternak kuda. Selain integrasi dengan pertanian, ternak kuda juga dapat dintegrasikan dengan pariwisata. Bukti integrasi kuda dan pariwisata seperti atraksi ketangkasan melempar lembing kayu dari atas kuda antara dua kelompok yang berlawanan (pasola) dan Parade 1001 kuda sandalwood yang dapat mendatangkan devisa bagi kabupaten-kabupaten di pulau Sumba.
Kepada Kantor Berita Antara, Robert Ramone CSsR mengatakan bahwa penurunan populasi kuda Sandalwood di Pulau Sumba kian menurun dalam beberapa tahun terakhir. “Kalau merujuk pada masa kecil saya pada tahun 70-an populasi kuda Sandalwood itu masih sangat banyak jika dibandingkan dengan saat ini," katanya di Kupang, Jumat (14/7).
Menurut Bupati Sumba Tengah Umbu S. Pateduk, Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah mencatat hingga saat ini populasi kuda di daerah itu mencapai 7.000 ribu ekor kuda. "Jumlah tersebut gabungan dari kuda Sandalwood dan kuda pacu yang tinggi,  dimana kuda Sandelwood jumlahnya kurang lebih 20 persen dari jumlah tersebut.
Masih menurut Robert Ramone CSsR, jika dibandingkan dengan populasi kuda di Sumba Barat Daya, jumlah kuda di Sumba Tengah masih terbilang lebih banyak, karena jumlahnya hanya mencapai 251 ekor.
Agustinus Niga Dapawole dalam Pos Kupang Minggu, 16 Juli 2017, bahwa akhir-akhir ini terjadi penurunan populasi ternak kuda yang disebabkan tingginya pemotongan pada saat upacara kematian, dan dijual ke luar pulau Sumba.
Oleh sebab itu, hemat saya, untuk ke depan Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten se pulau Sumba dalam hal ini Dinas Pariwisata untuk memikirkan adanya kegiatan parade 1001 kuda sandalwood dan festival tenun ikat dapat dipadukan dengan tari Kataga dan atau tari Woleka secara kolosal sehingga targetnya tidak saja tercatat dalam MURI, namun tercatat dalam Guinness Book of Record. Dengan masuknya even ini dalam Guinness Book of Record diharapkan even ini akan mendunia dan mendorong banyak turis mancanegara untuk datang menyaksikan, dengan demikian mendatangkan keuntungan bagi masyarakat pulau Sumba.
Untuk mempromosikan even ini, Pemerintah Kabupaten perlu membuat calendar of event dan bekerjasama dengan Association Sof The Indonesian Tour and Travel Agencies (ASITA) Nusa Tenggara Timur. Selain itu perlu dipikirkan olah raga ketangkasan berkuda berintegrasi pariwisata.
Guna menghambat penurunan populasi ternak kuda terutama kuda sandalwood, maka perlu dibuat peraturan yang membatasi kuota pengeluaran mengingat nilai jual kuda ini yang sangat tinggi. Sedangkan untuk mengembalikan kejayaan kuda sandalwood, Pemerintah Kabupaten se pulau Sumba melalui Dinas Peternakan perlu mendirikan kembali pusat pembibitan kuda sandalwood di pulau Sumba yang pernah didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanja tahun 1820.
©johnberek99@blogspot.com


PARADE 1001 KUDA SANDALWOOD : INTEGRASI TERNAK (KUDA)-PARIWISATA

Kamis, 17 November 2016

KACANG SALAH NAMA



Kacang!!!!! Saya yakin pasti semua orang mengenalnya dan pernah mengkonsumsinya. Sebut saja kacang tanah (Arachis hypoganea), kacang hijau (Vigna radiata),  kacang kedelai (Glycine max), dan lain-lain.
Nikmatnya kacang sangat disukai mulai dari kalangan rakyat kecil sampai kepada sang penguasa. Bahkan penderita asam urat pun tak mampu menahan godaan terutama kacang tanah.
Karena kenikmatannya, maka banyak tumbuhan lain yang daging buah nya senikmat kacang, ikut disebut orang sebagai kacang.
Ahli botani telah mengolongkan kacang-kacangan termasuk famili Leguminosa atau disebut juga polongan (berbunga kupu-kupu).

Lalu bagaimana dengan Kacang Mete dan Kacang Almond? Apakah keduanya termasuk dalam famili Leguminoseae.

Buah Mete (Anacardium ocidentalle). Secara botani, tumbuhan ini sama sekali bukan anggota jambu-jambuan (Myrtaceae) maupun kacang-kacangan (Fabaceae), melainkan lebih dekat kekerabatannya dengan mangga (suku Anacardiaceae). Daun pada jambu mete merupakan daun tunggal, tumbuh pada cabang dan ranting secara selang seling, bentuk daun bulat panjang hingga oval dan membulat atau meruncing pada ujung daun. Hasil penyerbukan tidak menghasilkan polong.

Buah Almond (Prunus dulcis). Secara botani almoond/badam/amandel bukan termasuk dalam famili Rosaceae. Kata “badam” dalam bahasa Indonesia dapat pula merujuk kepada pohon yang biji buahnya dapat dibuat minyak yakni ketapang (Terminalia catappa). Buah Almond sebenarnya bukanlah golongan kacang-kacangan, tetapi buah yang berbiji.

Saya tidak tahu, kapan, di mana, dan siapa yang pertama kali menyebutkan buah mete dan buah almond sebagai kacang yang bertahan hingga saat ini?
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kacang mete dan kacang almond merupakan “KACANG SALAH NAMA”.
©johnberek99.blogspot.com

Jumat, 03 Juli 2015

Budaya Sopir Menggoyang Mobil/Motor Saat Isi Bensin dan Bukti Kegagalan Pembelajaran Fisika


Ketika saya sedang mengantri pengisian BBM di salah satu SPBU di Kelurahan Naikoten I Kota Kupang, saya memperhatikan orang yang mengisi bensin sambil menggoyang-goyang mobilnya supaya bensin bisa masuk lebih banyak ke tangki? Tindakan tersebut sungguh menggelikan. Mungkin ia pikir mobil perlu digoyang-goyang agar tangkinya tidak menyisakan ruang kosong untuk bensin dan tangki bisa mengisi bensin lebih banyak. Sambil bergurau saya katakan pada istri saya bahwa itu adalah bukti kegagalan pembelajaran Fisika di Indonesia.
Jelas sekali bahwa orang ini tidak tahu bahwa sifat zat cair seperti bensin akan turun mengisi semua ruangan. Lagipula tangki bensin memang sudah dirancang untuk bisa diisi penuh sesuai kapasitasnya tanpa perlu digoyang agar bensin bisa mengisi tangki dengan penuh.
Jadi darimana orang-orang tersebut mendapatkan ide untuk menggoyang-goyang mobil agar tangki terisi penuh? Saya menduga bahwa mereka melihat orang lain melakukan hal tersebut dan kemudian mengikutinya tanpa pernah memikirkannya. Masyarakat kita memang penuh dengan orang-orang yang suka ikut-ikutan melakukan hal-hal yang dilakukan orang lain tanpa mereka pahami mengapa hal tersebut harus dilakukan. Mungkin juga mereka terinspirasi oleh orang yg menggoyang-goyangkan toples ketika mengisinya dengan krupuk, peyek, kacang, dan lain-lain. Jika kita mengisi wadah seperti toples dengan makanan seperti itu maka kita memang menggoyang-goyangnya agar isinya bisa lebih masuk ke dalam toples mengisi ruang yg kosong. Tapi itu kan benda padat. Benda cair tidak perlu diperlakukan demikian dan ia akan masuk sendiri mengisi ruang yang kosong.
Lantas mengapa masih banyak orang yang tidak paham dengan masalah sepele seperti ini?
Mungkin karena mereka tidak mendengarkan dengan baik pelajaran IPA atau Fisika tentang sifat-sifat benda cair pada waktu sekolah di SD dulu atau mereka siswa jurusan IPS pada saat SMA dulu.
            Jadi intinya kebiasaan menggoyang-goyangkan kendaraan saat mengisi bensin itu tidak salah, tetapi juga tidak berguna , ingat prinsip " BBM adalah cairan, dan sifat cairan adalah selalu mengisi dan mencari tempat yang lebih rendah. Jadi tidak perlu digundang-guncangkan agar lebih penuh ". Jadi, untuk apa kita mengeluarkan tenaga lebih untuk hal yang tidak terlalu berguna.
Salam dan doa
dari seorang sahabat
untuk para sahabatnya.

©johnberek99.blogspot.com

Kamis, 25 Juni 2015

Hidup Sederhana, Apa Mungkin?


Suatu ketika, seorang anak kecil sedang duduk di ladang memandang pesawat terbang yang sedang melintas di atasnya dan memimpikan suatu saat bisa terbang, tapi sang pilot di pesawat  itu memandang ladang hijau yang berada di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah.
Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari di jalan, tapi hanya anak-anak miskinlah yang melakukannya.
Jika kekuatan memang menjadi keamanan, tentu orang-orang penting yang jalan tanpa pengawalan, tapi hanya mereka yang hidup sederhana yang bisa tidur nyenyak.
Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebritis pasti punya perkawainan yang ideal.
Sekilas pesan yang akan disampaikan dalam cerita ini adalah “Hiduplah sederhana, berjalanlah dengan rendah hati, dan mencintailah dengan tulus”
Yang menjadi pertanyaan, apakah mungkin kita mampu menjalaninya?
Kita sering terjebak dalam pola hidup hedonis yakni pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai  tujuan utama dalam hidup. Gaya hidup hedonis terbentuk oleh sifat, karakter serta mental seseorang yang memandang terbutuhnya kepuasan fisik dan mental dengan parameter ada banyak  atau sedikitnya harta atau uang yang dipunya.
Manusia moderen saat ini begitu tenggelam dalam arus materialisme, sehingga seolah-olah tidak ada lagi ruang dalam pikiran dan hati untuk memahami dengan jelas apa itu :  kesederhanaan. Orang sepertinya merasa takut sekali terhadap ajakan untuk hidup sederhana. Kesederhanaan dipahami sebagai ajakan untuk menerima dengan realistis keadaan hidup miskin yang sedang dialami. Padahal hidup sederhana berarti usaha menghayati hidup sesuai dengan kebutuhan yang wajar.
Memang kita tidak bisa menyangkal, bahwa kita sedang hidup dalam suatu dunia yang sangat mendewakan materi. Hampir segala aspek kehidupan kita diukur secara nominal. Arus materialisme yang sangat kental ternyata dapat mematikan begitu banyak nilai bajik yang justeru penting untuk membentuk mutu hidup manusia. Misalnya, hilangnya makna pelayanan karena setiap jenis tugas yang mau dijalankan, orang selalu mengharapkan imbalan jasa dengan bersandar pada prinsip uang bensin, uang rokok, uang lelah, uang administrasi, dan lain sebaginya. Sepertinya orang sudah tidak dapat membedakan pekerjaan mana yang memang seharusnya mendapat imbalan,  dan pekerjaan mana yang memang merupakan kesempatan untuk melayani/membantu.
Hidup sederhana juga membantu kita untuk tidak merasa gelisah sekali melihat orang lain tampil lebih dari kita dalam hal memiliki, entah memiliki bakat dan kepribadian yang baik dan menarik,  atau memiliki banyak harta.  Kalau kita telanjur terperangkap dalam ”hasrat” untuk memiliki segala - galanya, maka kita pasti akan mengalami rasa tidak tenang. Kita akan mudah mengidap penyakit hati seperti, sakit hati atau iri hati melihat orang lain mengalami kesuksesan dalam hidupnya.
Dengan demikian ia sama seperti seorang pangeran atau permaisuri yang hidup di atas menara gading berlantai duri. Melukai dan menyakitkan sehingga menghalau kebagiaan dari hidupnya. Kalau sampai tidak bisa merasa bahagia di atas menara kelimpahan itu, berarti sangat jelas bahwa menara itu telah dibangun dengan cara yang kotor atau tidak wajar. Pilihan bijaksana untuk dapat mengecap kebahagiaan di tengah dunia yang  berlimpah dalam segalanya adalah hidup menurut kebutuhan yang nampak sederhana tetapi mampu membersitkan rasa bahagia dalam hidup ini.
Salam dan doa
dari seorang sahabat
untuk para sahabatnya.
©johnberek99.blogspot.com


Jumat, 19 Juni 2015

Pareidolia dan Apophenia

                                                                        
Bila masih tersimpan di ingatan anda, kurang lebih 18 tahun tang lalu, masyarakat kota kupang pernah dihebohkan dengan kejadian penampakan wajah Yesus maupun Bunda Maria di tembok dan kaca jendela rumah.
Beberapa waktu yang lalu masyarakat selalu dihebohkan dengan adanya  gambar binatang atau wajah-wajah di awan atau persepsi citra agama dan berbagai tema lainnya, terutama wajah tokoh maupun simbol agama, dalam fenomena-fenomena yang biasa dijumpai, banyak diantaranya yang melibatkan gambar Yesus, Bunda Maria atau Lafadz Allah. Bahkan gambar-gambar tersebut tidak hanya terdapat di awan saja bahkan terdapat di tubuh hewan, batang pohon, maupun batu-batuan.
Dengan semakin “booming”nya batu akik, para pencinta dan kolektor batu akik ramai-ramai memburu batu akik yang mempunyai motif seperti wajah Yesus, Bunda Maria, Lafadz Allah, Nyi Roro Kidul, Paus Paulus, wajah wanita, binatang, dan lain-lain.
Beberapa waktu yang lalu, dunia digemparkan dengan terdengarnya suara di langit yang disamakan dengan bunyi terompet sangkakala di berbagai belahan dunia. Suaranya tersebut ditafsir bermacam-macam. Hampir semua peneliti di dunia mengatakan bahwa itu fenomena alam sedangkan para religius mengatakan bahwa tanda-tanda bumi hendak kiamat.
Muncul pertanyaan ilmiah oleh masyarakat “apakah betul fenomena tersebut ada?”.
Karena pertanyaan nya ilmiah, maka perlu dijawab dengan jawaban ilmiah pula. Pernahkah anda mendengar istilah “Pareidolia dan Apophenia”?
 Pareidolia
Pareidolia adalah sebuah fenomena psikologis yang melibatkan stimulus samar-samar dan acak (seringkali sebuah gambar atau suara) yang dianggap penting. Sebagai contoh umum anda melihat gambar binatang atau wajah-wajah di awan, pria di bulan atau kelinci Bulan, dan pendengaran pesan tersembunyi di rekaman yang dimainkan secara terbalik.
Pareidolia menjadi penyebab seseorang melihat atau juga mendengar dari gambaran kabur atau suara kurang jelas, seakan-akan menyerupai sesuatu yang signifikan.
Ada sejumlah dugaan bagaimana fenomena pareidolia bisa terjadi. Sebagian ahli mengatakan, pareidolia menghasilkan delusi yang melibatkan indra, dalam kebanyakan kasus adalah indra penglihatan. Dan selalu ditentukan oleh dorongan psikologis.
Di samping itu, hal yang menarik adalah kerap dalam banyak fenomena, pareidolia berkaitan dengan religiusitas. Studi di Finlandia mengemukakan pula, orang-orang yang religius atau yang secara kuat meyakini kekuatan supernatural, lebih cenderung untuk melihat wajah di benda tak bernyawa dan lanskap.
Apophenia
Apophenia adalah kecenderungan untuk mencari pola yang berarti dalam kedua data yang berarti dan yang tidak memiliki arti. Dalam statistik, apophenia disebut kesalahan Tipe I, mencari pola yang sebenarnya tidak ada. Berikut contoh kesalahan Tipe I dan kesalahan Tipe II: Bayangkan anda sedang berjalan sendirian di hutan, lalu terdengar sesuatu di balik rerumputan. Apakah hanya suara angin atau hewan buas yang sedang mencari mangsa? Pilihan anda akan menentukan hidup dan mati anda.
Kalau anda menganggap suara dibalik rerumputan tersebut sebagai hewan buas tapi ternyata hanya suara angin, anda telah membuat kesalahan Tipe I dalam pengertian. Disitulah anda menemukan pola yang sebenarnya tidak ada. Anda mengaitkan (A) suara rerumputan dengan (B) hewan buas yang berbahaya, tapi dalam hal ini A ternyata tidak terkait dengan B. Tidak merugikan. Anda menghindar dari rerumputan tersebut, menjadi lebih waspada, dan mencari jalur lain untuk melewati hutan.
Kalau anda menganggap suara dibalik rerumputan tersebut hanyalah angin tapi ternyata adalah hewan buas, anda telah membuat kesalahan Tipe II dalam pengertian. Di situ, anda telah melewatkan pola yang sebenarnya ada. Anda gagal mengaitkan A dengan B, dan dalam hal ini A ternyata terkait dengan B.
Jelas, berkaitan dengan kelangsungan hidup jangka panjang, anda lebih baik keliru di sisi yang aman dan berpikir bahwa suara yang anda dengar dibalik rerumputan adalah hewan buas. Atau, untuk pengertian yang lebih psikologis, lebih baik melihat pola yang sebenarnya tidak ada daripada melewatkan pola yang sebenarnya ada.
Karena ini, keahlian mencari pola anda memiliki kecenderungan yang tertanam untuk mencari hubungan antara kejadian-kejadian yang sama sekali tidak berhubungan. Sebagai contoh,anda mungkin melihat kebersesuaian antara satu mimpi dan suatu peristiwa dalam hidup anda, dan kemudian membuat anda berpikir bahwa anda memiliki kemampuan untuk meramal masa depan.
Sebagian orang lebih baik dalam kemampuan melihat pola dibanding orang lain, bahkan dalam noda tinta yang sama sekali tidak memiliki arti.
Orang yang baik dalam kemampuan mencari pola lebih sering mengalami fenomena supernatural. Hal ini dibuktikan lewat tes noda tinta yang dilakukan beberapa peneliti terhadap beberapa orang. Mereka yang memperoleh skor tinggi dalam mencari pola dalam noda tinta, mengaku lebih sering mengalami kejadian-kejadian aneh.
Kesimpulan
Semua fenomena Pareidolia maupun Apophenia selalu dialami oleh banyak orang. Apabila anda mengalami fenomena tersebut, keputusan ada di tangan anda seperti yang dinyatakan oleh Jules Henri Poincare bahwa “Meragukan segalanya atau percaya segalanya adalah dua hal yang sama; keduanya harus dipertimbangkan kembali.”
Salam dan doa
dari seorang sahabat
untuk para sahabatnya.

©johnberek99.blogspot.com