bae sonde bae ..... yang penting beta menulis dan bercerita

Selasa, 06 September 2016

KISAH PAPALELE



Ina Nella (dok.pribadi)

Setiap hari kecuali hari Minggu pagi, Ina Nella selalu datang ke rumah kami untuk menawarkan/menjual sayur mayur, buah-buahan dan kebutuhan lainnya yang berhubungan dengan urusan perut. Bertelanjang kaki wanita tua asal Sabu itu memikul kapisak (ayaman keranjang dari  daun lontar ) yang berisi kebutuhan perut, pada bahunya yang mulai lelah. Wajahnya terlihat keriput tanda termakan usia, namun dari wajahnya yang keriput selalu keluar senyuman kecil yang manis yang mengisyaratkan bahwa dahulu ketika masih muda wanita tua ini pasti cantik dan ramah.
Dari satu rumah berpindah ke rumah yang lain, dari  satu desa berpindah ke desa yang lain menawarkan jualannya mengharapkan keuntungan. Prinsipnya walaupun untung sedikit yang penting bukan rugi yang didapat. Masih banyak Ina Nella-Ina Nella lain yang berprofesi sebagai “Papalele”.

Arti Papalele
Tahukah anda dengan istilah “Papalele”
Arti papalele tidak diketahui sejak kapan istilah ini digunakan dan asal mula berasal dari daerah mana, karena keterbatasan literatur dan penelitian di bidang sosial ekomomi tentang kegiatan papalele.
Menurut Souisa : 1999 dalam Thesisnya yang berjudul Papalele : Ajang Hidup Berteologi Perempuan Ambon. Secara etimologi papalele terdiri dari dua kata yakni papa yang artinya membawa/memikul dan lele yang berarti keliling. Jadi papalele berarti “berkeliling membawa atau memikul”. Papalele juga dapat diartikan sebagai “kegiatan membeli barang, sesudah itu dijual lagi untuk mendapat keuntungan (Mailoa : 2006. Kamus Bahasa-Harian Dialek Orang Ambon, penerbit Kalibata Jakarta). Sedangkan menurut Soegijono : 2009 dalam Thesis-nya yang berjudul Papalele : Budaya Ekonomi Lokal. Berpendapat bahwa papalele tidak bedanya sebagai perantara (agen) antara konsumen dan produsen. Dari ketiga pendapat-pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa papalele adalah penjual (agen) yang mendatangi konsumen dimana kolektif dan solider menentukan harga.


Papalele Ambon
Papalele merupakan suatu aktifitas berjualan yang sudah ada sejak dulu pada masyarakat Ambon. Mereka menggunakan pakaian khas mereka. Kegiatan mereka biasanya dimulai pada waktu subuh dari tempat mereka ke kota Ambon dengan berjalan kaki tanpa alas kaki. Kegiatan papalele ini dilakukan dengan cara menjajakan barang dagangan secara berkeliling dari rumah ke rumah, atau dengan cara duduk di pinggir jalan. Mereka yang menjual secara berkeliling meletakkan jualannya diatas dulang yang diletakkan diatas kepala.

Papalele Kupang
Hingga saat ini belum ada satupun kajian tentang kegiatan papalele di Nusa Tenggara Timur umumnya dan Kota Kupang khususnya. Namun saya mencoba untuk mencari-cari tulisan tentang kegiatan papalele di Kupang, dan akhirnya saya menemukan sebuah buku dalam bahasa Inggris yang ditulis oleh Koentjaraningrat yakni seorang Profesor juga Kepala Departemen Antropologi Universitas Indonesia. Saya mencoba menterjemahkannya sebisa mungkin dan kisahnya sebagai berikut :
Koentjaraningrat  : 1967. Dalam bukunya “Village in Indonesia” yang ditulis tahun 1966 mengisahkan bahwa dahulu di Baun-Amarasi banyak petani berusaha kebun pertanian dan perkebunan seperti kacang panjang, pinang, pisang, kelapa, tomat, bawang putih, ubi kayu. Hasil pertanian dan perkebunan tersebut untuk dikonsumsi sendiri dan dijual. Petani biasanya menjual hasil pertanian dan perkebunan tersebut di pasar pada hari Senin, sehingga hari Minggu adalah hari yang tersibuk karena petani harus memetik dan mempersiapkannya untuk dijual esok harinya. Hasil pertanian dan perkebunan dibawa ke pasar oleh laki-laki dewasa, perempuan dewasa, anak-anak, dan kuda, yang kemudian dibeli oleh pedagang yang disebut papalele yang datang dari Kupang. Papalele datang dari Kupang pada siang hari dan kembali ke Kupang pada sore hari. Hasil yang tidak habis terjual, dijual kepada pegawai pemerintah, guru-guru, orang Cina yang menetap di Baun dan sebagian kecil orang di kampung. Laki-laki memotong ternak untuk dijual dagingnya. Ada beberapa desa disekitarnya yang  khusus menghasilkan  barang-barang seperti garam, kapur (untuk sirih), bakul (keranjang yang terbuat dari daun lontar), dan alat-alat pertukangan. Wanita-wanita menjual kerajinan seperti bakul (keranjang yang terbuat dari daun lontar), kain, dan tali. Mereka juga menjual makanan ringan untuk pembeli di pasar. Beberapa barang konsumsi di beli oleh papalele untuk dijual kembali di Kupang.
Papalele, biasanya terdiri dari orang Rote atau orang Sabu, memakai celana, kemeja, sepatu, dan topi. Usia mereka antara dua puluhan sampai tiga puluhan tahun, dan terutama laki-laki dan bujangan, tetapi apabila mereka sudah menikah mereka dibantu oleh istri-istri mereka.

Kini kegiatan papalele tidak saja terdapat di Kupang dan sebatas orang Rote dan orang Sabu saja, namun sudah merambah pada semua daerah dengan semua suku yang ada di Nusa Tenggara Timur. Jenis produk yang diperjualbelikan juga tidak terbatas pada hasil pertanian dan perkebunan, namun sudah bermacam-macam produk. Usia Papalele juga tidak terbatas pada usia 20 – 30-an tahun, manun ada dibawah umur 20 tahun dan diatas 30-an tahun, baik orang dewasa maupun anak-anak terutama anak-anak putus sekolah usia Sekolah Dasar dan menengah. Tidak berbeda jauh dengan kegiatan papalele di Ambon, kegiatan papalele di Kupang juga ada yang masih berjualan berkeliling desa seperti Ina Nella menggunakan lalepak (kayu pikulan yang terbuat dari bambu) dan kapisak/bakul (keranjang yang terbuat dari daun lontar), namun ada yang menetap dengan membuat kios kecil yang dikenal dengan sebutan pedagang kaki lima (kebanyakan berjualan diatas trotoar jalan; lebar trotoar ± 1,5 meter atau 5 kali; dimana 1 kaki = 0,3048 meter), selain itu ada yang menggunakan sepeda motor bahkan mobil pick up.

 

Masuknya Kegiatan Papalele di Kupang
Kalau kita membuka kembali sejarah masuknya bangsa Belanda ke Indonesia khususnya ke Pulau Timor dan Maluku, jelas tercatat bahwa pada tahun 1605, Belanda berhasil memaksa Portugis untuk menyerahkan pertahanannya di Ambon kepada Steven van der Hagen dan di Tidore kepada Cornelisz Sebastiansz. Demikian pula benteng Inggris di Kambelo, Pulau Seram, dihancurkan oleh Belanda. Sejak saat itu Belanda berhasil menguasai sebagian besar wilayah Maluku. Sedangkan baru pada tahun 1613 VOC yang berkedudukan di Batavia (Jakarta) mulai berdagang  dengan mengirim 3 kapal  yag dipimpin oleh Apolonius Scotte menuju pulau Timor dan mendarat di Teluk Kupang dan diterima oleh Raja Helong yang sekaligus menawarkan sebidang tanah untuk keperluan markas VOC.
Dengan demikian dapat saya disimpulkan bahwa kegiatan Papalele ini sudah ada lama di Ambon, baru kemudian di Kupang. Pendapat ini senada dengan yang disampaikan oleh Souisa :1999 dan Pattikayhatu : 2005 bahwa papalele dalam perkembangannya, sebenarnya diduga mulai ada dan berkembang di Kota Ambon dan Maluku sejak jaman VOC yang menekankan sistim hongi. Sebuah model politik ekonomi untuk melumpuhkan sistim ekonomi masyarakat di kota Ambon pada khususnya. Hal ini terkait juga dengan model politik “devide et impera” yang dibangun oleh Belanda pada saat itu.  Lebih lanjut dipertegas oleh Soegijono : 2009.  Bahwa Papalele mungkin juga menjadi sebutan atau dikenal di daerah lain khususnya di wilayah bagian timur. Nusa Tenggara Timur (seperti Kupang, Sumba dll), juga menyebut papalele sebagai orang-orang yang melakukan aktivitas layaknya para pedagang.

Masuknya kegiatan papalele ini di NTT, kemungkinan besar diperkenalkan oleh para guru sekolah rakyat dan sekaligus guru jemaat yang datang dari Ambon ± tahun 1716 (perjalanan sejarah injil di NTT oleh orang – orang maluku).


Papalele..... bisa juga jadi penjual, bisa juga jadi pembeli
Papalele..... biar tipis untung sedikit, asal jangan rugi modalnya
Papalele..... biar dapat rokok sebatang, biar dapat nasi sepiring
Asal jangan pengangguran
Seperti lyrik lagu “kisah papalele” yang dicipta dan dinyanyikan oleh Vester Esa*****)
©johnberek99.blogspot.com

Senin, 08 Agustus 2016

TELEPON UMUM KOIN, NASIBMU KINI?

TUC yang berada di lokasi jalan masuk pasar Oebobo (dok.pribadi)


Apakah masih dalam ingatan anda tentang telepon umum koin yang dulu sangat digemari?
Pada era 1980-an hingga 1990-an telepon umum koin sangat digemari oleh masyarakat. Hal ini terjadi karena saat itu telepon di rumah masih sulit dipasang, ditambah lagi telepon genggam atau handphone belum tersedia, pun kalo sudah ada masih berupa barang lux (mewah).
Dahulu telepon umum sangat diminati dimana hampir semua orang pasti menggunakannya sampai dalam antrian yang panjang, ada yang menggunakannya untuk telepon lokal, ada jam-jam tertentu yang padat misalnya malam minggu yang lebih banyak digunakan oleh para remaja.
Di kota Kupang, saat itu telepon umum koin sangat mudah ditemui dan kebanyakan terpasang di tempat-tempat umum seperti RSU W. Z. Johannis, area perkantoran Gubernur Tingkat I Provinsi NTT, area perkantoran Wali Kota Kupang, area perkantoran Bupati Kupang, area persekolahan Santu Yoseph dan Don Bosco, Universitas Nusa Cendana di Naikoten I, bandara El Tari, pasar oebobo, pasar oeba, pasar inpres Naikoten, pelabuhan Tenau, halte bahkan sepanjang tepi jalan raya di Kota Kupang.
Masih dalam ingatan saya, waktu itu di tahun 1983 ke-atas ketika itu saya masih duduk di bangku SMA Negeri I Kupang, hampir setiap hari sepulang sekolah teman saya selalu memanfaatkan telepon umum koin yang berada di pintu masuk RSU W. Z. Johannis Kupang untuk menelpon teman wanita satu sekolah dalam rangka pendekatan. Uang recehan Rp. 100,- dan Rp. 500,- dari sisa uang jajan dikumpulnya untuk menelpon berjam-jam lamanya, sehingga apabila ada yang mau menggunakan telepon umum koin tersebut harus menunggu lama karena teman tersebut masih menggunakannya. Masih teringat juga tahun 1988 ketika saya sudah kuliah, di depan hotel Flobamor II Kuanino terdapat sebuah telepon umum koin yang selalu kami gunakan bila ingin berkomunikasi dengan teman yang mempunyai telepon rumah.
Namun, kini dari hasil pemantauan saya, hanya tersisa dua buah telepon umum koin yang ada di kota Kupang yakni satu unit berada di depan ex kantor Hutama Karya kelurahan Oeba, dan satunya terdapat di samping depan pintu masuk pasar oebobo kelurahan Fatululi. Namun keadaan kedua unit telepon umum koin tersebut sangat memprihatinkan, dimana telepon umum koin tersebut hanya tinggal rumahnya saja, sedangkan teleponnya sudah tidak ada lagi mungkin telah dicopot oleh pemulung barang bekas.
Kedua telepon umum koin tersebut kini hanya menjadi kenangan masa lalu yang mengingatkan kita bahwa dahulu kita banyak menggunakan mereka untuk saling berkomunikasi. Kedua telepon umum koin tersebut juga menjadi saksi kemajuan teknologi di bidang komunikasi.

©johnberek99@blogspot.com

Rabu, 20 Juli 2016

KAYU DO'I



Dengan kemajuan dibidang teknologi dan informatika membawa dampak terhadap jenis-jenis permainan jaman sekaran, seperti game online yang lagi booming saat ini yakni Pokemon Go dan jenis permainan modern lainnya, sehingga permainan tradisonal mulai kurang diminati bahkan tidak pernah dimainkan lagi.

Masih dalam ingatan saya ketika masih kecil, ada satu permainan yang dikenal dengan nama Kayu Do’i. Disebut permainan Kayu Do’i karena untuk memainkan permainan ini menggunakan 2 (dua) buah batang kayu, dimana yang satu ukuran panjangnya ± 10 cm dan kayu yang dikenal dengan anak kayu, yang lain panjangnya ± 30 – 40 cm yang dikenal dengan induk kayu. Anak kayu diletakkan di letakkan melintang di dalam lubang seukuran ± 15 x 10 cm dengan kedalamam ± 5 cm. Kemudian induk kayu dipakai untuk mengayunkan anak kayu sehingga anak kayu melambung jauh ke depan. Mengayunkan/mencungkil kayu tersebut yang dinamakan “do’i” (bahasa Kupang) karena untuk mengayunkannya/mencungkil menggunakan kayu sehingga disebut “Kayu Do’i” (mencungkil kayu).
Permainan ini bisa dimainkan secara berkelompok atau satu lawan satu, namun yang paling seru dan lasim dimainkan adalah secara berkelompok, dimana satu kelompok melawan kelompok yang lain.
Sebelum permainan dimulai, kedua kelompok bersepakat untuk menentukan batas nilai untuk mencapai pemenang misalnya poin 500, 1.000 atau bisa lebih dari itu tergantung kesepakatan. Sehingga kelompok mana yang duluan mengumpulkan nilai sampai yang telah ditentukan, maka kelompok itu sebagai pemenangnya. Selain itu mereka juga bersepakat tentang hukuman yang harus diterima bagi kelompok yang kalah, biasanya hukuman yang diberi adalah anggota kelompok yang kalah harus “mendongko” (bahasa kupang) atau memanggul dari belakang anggota kelompok yang menang.

Ketika anak kayu di cungkil dan melambung jauh lawan harus berusaha menangkapnya, apabila dapat menangkap dengan dua tangan maka poin 10, kalau dapat menangkap dengan menggunakan satu tangan, maka mereka berhak bertukar giliran sebagai kelompok yang mencungkil kayu.
Selain  kelompok lawan biasa menangkap kayu menggunakan satu tangan, maka apabila mau bertukar giliran, maka kelompok lawan harus mampu melempar anak kayu mengenai induk kayu yang diletakkan di belakang lubang.

Perhitungan poin dilakukan dengan dua cara yakni : 1) pukulan doble di udara, setiap dobelan poin-nya 1, sehingga kalau seseorang mampu mendoble-nya sampai 10, maka poin-nya 10;
2) Paling seru adalah yang biasa disebut “Kepala Anjing” anak kayu diletakkan memanjang searah lubang dengan ujung kayu sedikit terangkat ke atas, lalu ujung kayu yang terangkat di pukul sehingga anak kayu melambung ke atas, kemudian anak kayu di pukul doble beberapa kali kemudian di pukul hingga jauh. Kemudian dengan menggunakan induk kayu menghitung dari tempat anak kayu jatuh hingga ke lubang dengan menggunakan ukuran panjang induk kayu. Apabila jaraknya sama dengan 20 kali induk kayu dan jumlah pukulan doble di udara 5 kali, maka nilainya 20 x 5 = 100 poin.

Namun permainan ini sudah tidak dimainkan lagi oleh anak-anak seperti saya dulu.
Permainan ini, dahulu biasanya saya dan teman-teman bermain di waktu sore hari sepulang sekolah dan hari-hari libur.
Bila saya mengenang kembali permainan ini, ingin rasanya kembali ke masa saya ketika masih anak-anak dahulu.*****)
©johnberek99.blogspot.com