bae sonde bae ..... yang penting beta menulis dan bercerita

Rabu, 25 Maret 2015

Kepangkatan Menentukan Gaji



Pangkat di lingkungan militer bahkan sipil bukan sekadar siapa menghormat pada siapa, tapi juga melambangkan kepemimpinan, tanggungjawab, dan kemampuan di masa damai dan perang. Diawal sejarah perang, tanda pangkat menunjukkan bahwa si pengemban pangkat mampu bertahan dalam pertempuran. Dalam riuhnya pertempuran, mengetahui pemberi perintah sama pentingnya dengan kemampuan prajurit berperang. Jika pemimpin gugur, putuslah garis komando.
Jenjang militer di Eropa lahir terkait senjata dan cara bertempur, misalnya Infantri (berjalan kaki) atau Cavalry (berkuda). Golongan atas (perwira) atau ksatria (knights), menengah (sersan, pemanah), bawah (prajurit), dan golongan buruh/tani, berpengaruh pada status social, gaji, dan perlakuan pada saat tertawan.
Tanda pangkat tak selalu tersemat di pundak. Pada perang 30 Tahun di Perancis yang dimulai sejak 1835, kurang lebih 6.000 tentara Kroasia yang disewa Ludwig XIII dan PM Kardinal Richelieu menggunakan kain yang diikatkan di leher.
Untuk pangkat terendah digunakan katun biasa dan tertinggi kain sutra. Tanda pangkat ini dianggap anggun, hingga di masa Ludwig XIV jadi mode yang disebut pengikat leher a la Croate, la cravat atau krawatte. Kini dikenal sebagai dasi. Tanda ini masih digunakan sebagai tanda penghormatan tamu kenegaraan Kroasia.

Kapten dan Letnan
Pembahasan tentang sejarah pangkat saya mulai dari Kapten dan Letnan. Istilah Kapten berasal dari bahasa Latin Capitaneus, yang kemudian berkembang menjadi bahasa Italia Capitano, dan bahasa Inggris Captain yang berarti “ketua”. Pada mulanya Captain adalah pemimpin kesatuan-kesatuan militan yang tidak terikat kepada suatu wilayah atau daerah tertentu, yang biasanya disebut mercenary armies. Pada zaman modern, istilah mercenary armies diartikan sebagai “tentara profesional bayaran” yang menjual jasanya kepada penawar tertinggi.
Kesatuan-kesatuan ini mengenal struktur organisasi sederhana, dengan kepangkatan yang berkaitan terhadap unit-unit tertentu. Dalam menjalankan kepemimpinannya, seorang Captain dibantu oleh Lieutenant, atau dalam bahasa Indonesia disebut Letnan. Istilah ini berasal dari bahasa Prancis, Lieu berarti “tempat” sedangkan tenant berarti “pemegang”, atau dalam bahasa Inggris disebut place holder. Dengan demikian, apabila seorang Captain berhalangan, maka tempat kedudukannya bisa diwakili oleh Lieutenant.
Dalam Angkatan Laut Inggris pada abad ke-11 dan 12, pangkat Captain juga digunakan oleh orang yang memimpin dan mengomando pasukan di sebuah kapal dalam pertempuran. Sama halnya di darat, Captain pada Angkatan Laut juga memiliki pembantu yang disebut Lieutenant. Karena pada masa itu tidak ada pengkat yang lebih rendah, maka terbentuklah istilah First Lieutenant, Second Lieutenant, dan Third Lieutenant. 
Pada abad ke-18 dalam Angkatan Laut Inggris terdapat tiga jenis pangkat, yaitu Post Captain, Captain, dan Commander. Post Captain merupakan pangkat tertinggi yang berkuasa atas kapal sebagai kepanjangan tangan dari Raja, dan sejajar dengan Colonel pada Angkatan Darat. Namun dalam sehari-hari, Post Captain tidak mengendalikan kapal, tetapi mendelegasikan kepada pangkat di bawahnya. Di bawah Post Captain terdapat pangkat Captain yang bertugas sebagai komandan kapal. Sementara Commander merupakan perwira di bawah Captain yang bertanggung jawab untuk melayarkan kapal. Pada mulanya pangkat ini disebut Master and Commander.

Pembantu Letnan
Sistem kepangkatan di Indonesia mengenal adanya “Pembantu Letnan” yang setara dengan Warrant Officer dalam kepangkatan Amerika. Maka, apabila dikembalikan dalam sejarahnya, pangkat ini bisa dianggap sebagai “pembantu dari pembantu kapten”. Mungkinkah demikian?
Dalam bahasa Prancis lama, istilah warrant bermakna “pelindung” atau “penjamin”. Pada mulanya pangkat ini ada di dalam Angkatan Laut sebagai petugas yang menjamin keselamatan kapal, termasuk melayarkan kapal, melakukan perbaikan, mempersiapkan kapal, dan sebagainya. Dengan demikian, apabila Captain bertugas memimpin dan mengomando pasukan di dalam kapal, dan dibantu Lieutenant, maka Warrant Officer bertugas menjamin kelangsungan dan keselamatan kapal itu sendiri. Pada mulanya terdapat banyak Warrant Officer, seperti petugas meriam, ahli operasi, ahli perkayuan, ahli navigasi, dan sebagainya dalam sebuah kapal. Kemudian di antara para Warrant Officer itu ada yang disebut Master, dan kelak berubah menjadi Commander.

Kolonel dan Mayor
Pangkat Kolonel bermula dari zaman King Ferdinand Raja Spanyol pada abad ke-16, di mana ia mengatur Angkatan Darat ke dalam dua puluh unit yang disebut Colunelas, dan masing-masing terdiri atas 1.000 sampai 1.250 tentara, yang dipimpin oleh seorang Cabo de Colunela, atau disingkat Colonel. Sistem ini kemudian ditiru oleh Prancis dan dikembangkan ke dalam bentuk Regiment. Selanjutnya, Inggris juga meniru sistem ini, serta meniru pula pengucapan Spanyol Coronel, bahkan kemudian berubah menjadi Kernal.
Colonel di Prancis dan Inggris pada masa itu tidak hanya terlibat dalam pertempuran, tetapi juga dalam urusan lain. Maka, apabila seorang Colonel sedang tidak ada di tempat, maka tugas-tugasnya digantikan sementara oleh seorang pembantu berpangkat Lieutenant Colonel.
Di bawah Lieutenant Colonel terdapat pangkat Sergeant Major. Istilah Major sendiri dalam bahasa Latin berarti “lebih besar”, maksudnya di sini adalah pangkat yang lebih besar daripada Sergeant. Pada masa itu Colonel, Lieutenant Colonel, dan Sergeant Major dipilih dari para Captain yang bergabung membentuk Regiment. Dalam keseharian, ketiga pejabat ini tetap sebagai Captain dalam kompi mereka masing-masing.
Selain bertugas sebagai wakil dari Lieutenant Colonel, seorang Sergeant Major juga bertanggung jawab dalam membentuk unit-unit dalam Regiment untuk menghadapi pertempuran. Oleh sebab itu, memiliki suara keras dan lantang adalah syarat wajib bagi seorang Sergeant Major. Sejak abad ke-17, sistem Regiments menjadi sistem permanen dalam ketentaraan, sehingga Sergeant Major untuk selanjutnya disingkat menjadi Major saja. Pangkat ini dalam bahasa Indonesia disebut Mayor. Kemudian, pangkat Sergeant Major sendiri digunakan untuk menyebut tingkatan tertinggi dalam kepangkatan bintara, atau di bawah perwira.

Admiral dan Commodore
Pangkat tertinggi dalam Angkatan Laut Indonesia disebut Laksamana, yaitu diambil dari nama adik Sri Rama dalam kisah Ramayana. Pangkat ini konon pertama kali diberikan kepada tokoh Hang Tuah dalam Sejarah Melayu. Dalam bahasa Inggris, pangkat Laksamana disebut dengan istilah Admiral.
Sesungguhnya istilah Admiral sendiri diambil dari bahasa Arab Amir al-Bahr, yang berarti “pemimpin lautan”. Pangkat ini digunakan bangsa Arab dalam Perang Salib sekitar abad ke-11, yang kemudian ditiru orang-orang Sicilia dan Genoa menjadi Amiral. Selanjutnya, pangkat ini dipakai oleh Inggris dengan istilah Admyrall, kemudian berubah menjadi Admiral seperti sekarang.
Dalam Angkatan Laut Inggris, seorang Admiral akan memimpin di posisi depan. Untuk posisi tengah akan dipimpin oleh wakilnya yang berpangkat Vice Admiral. Seorang Vice Admiral juga bertugas menggantikan posisi Admiral apabila berhalangan. Selanjutnya, terdapat lagi jabatan wakil dari Vice Admiral yang bertugas memimpin armada di belakang, dengan pangkat Rear Admiral. Dalam Angkatan Laut Indonesia, ketiga pangkat tersebut masing-masing setara dengan Laksamana, Laksamana Madya, dan Laksamana Muda.
Selanjutnya, pangkat yang lebih rendah adalah Laksamana Pertama, atau dahulu dikenal dengan sebutan Komodor, yaitu pangkat dari Yos Sudarso, seorang Pahlawan Nasional yang gugur dalam Pertempuran Laut Aru. Pangkat ini pertama kali diciptakan oleh Belanda dengan istilah Commodore pada 1652 saat berperang melawan Inggris. Kala itu Belanda menginginkan seorang pemimpin squadron, namun tidak ingin perwira yang berpangkat Admiral, karena bayaran seorang Admiral dirasa sangat tinggi. Maka, diciptakanlah pangkat Commodore tersebut yang berada di bawah Admiral, dan di atas Captain.

Jenderal
Jenderal yang merupakan pangkat tertinggi dalam Angkatan Darat berasal dari bahasa Latin Generalis yang berarti “secara keseluruhan”. Maksudnya ialah, seorang General bertanggung jawab dalam memimpin seluruh kekuatan tentara Angkatan Darat. Pada mulanya, pangkat ini disebut Captain General, yaitu seorang kapten yang memiliki komando dan memimpin secara keseluruhan.
Sebelum abad ke-16, pangkat General hanya dibentuk pada saat operasi peperangan saja. Seorang Raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam angkatan perang, namun dalam pelaksanaan sehari-hari komando dilaksanakan oleh seorang Captain General. Ketika pangkat Colonel mulai dikenal, maka pemimpin seluruh Angkatan Darat pun berubah nama dari Captain General menjadi Colonel General.
Pada abad ke-18 Inggris menyederhanakan pangkat tersebut menjadi General saja. Seperti halnya pangkat yang lain, seorang General pun memiliki wakil dengan sebutan Lieutenant General. Tidak seperti sekarang, pangkat ini pun bukan jabatan permanen namun hanya bersifat sementara. Artinya, apabila General sedang berhalangan, maka seorang Colonel atau Captain pemimpin Regiment dapat ditunjuk untuk mengisi posisi Lieutenant General.
Selanjutnya, untuk membantu urusan administratif, seorang General dibantu oleh seorang Sergeant Major General yang juga bukan merupakan jabatan permanen. Yang mengisi jabatan ini dipilih dari seorang perwira berpengalaman yang membawahi seluruh staf administrasi, juga meliputi bidang logistik dan mengorganisasi pasukan untuk pergerakan saat pertempuran. Lagi-lagi suara yang keras dan lantang menjadi syarat wajib seorang Sergeant Major General. Ketika pangkat Sergeant Major dalam Regiment disederhanakan menjadi Major saja, maka Sergeant Major General pun disederhanakan pula menjadi Major General.
Pada perkembangan selanjutnya dikenal pula pangkat Brigadier General, yang kala itu merupakan komandan dari sebuah Brigade. Istilah ini berasal dari bahasa Latin Briga yang berarti “pertempuran”. Brigade merupakan gabungan dari beberapa Regiment. Biasanya tiga Regiment membentuk satu grup pertempuran yang disebut Brigade tadi.
Selain empat tingkatan pangkat jenderal di atas, pada Perang Dunia II telah diciptakan sebuah pangkat bintang lima oleh Kongres Amerika Serikat dengan sebutan General of The Army. Pada Desember 1944 Presiden Amerika memberikan pangkat tersebut kepada George C. Marshall, Douglas MacArthur, Dwight D. Eisenhower, dan Henry H. Arnold. Sementara itu pangkat bintang lima ini juga ditetapkan di Indonesia pada zaman Orde Baru dengan sebutan Jenderal Besar. Bedanya, pangkat ini di Indonesia diberikan kepada tiga orang purnawirawan, bukan kepada perwira yang masih aktif. Ketiga purnawirawan itu adalah Panglima Soedirman, A.H. Nasution, dan Presiden Soeharto.

Sersan dan Kopral
Pangkat terakhir yang saya bahas adalah Sersan dan Kopral, yang masing-masing dalam bahasa Inggris disebut Sergeant dan Corporal.
Sergeant berasal dari bahasa Prancis Sergent, yang merupakan turunan dari bahasa Latin Serviens, yang berarti “orang yang melayani”. Sementara itu, Corporal berasal dari bahasa Italia Capo Corporale, yang berarti “head of the body” atau “kepala dari tubuh”. Istilah ini agaknya berkaitan dengan pekerjaan “bodyguard” atau "pengawal".
(Dari berbagai sumber)
©johnberek99.blogspot.com

Selasa, 24 Maret 2015

Untung Ada Kunci



Untung ada kunci. Kalau tidak, kita bakal tak merasa aman meninggalkan benda-benda, apakah rumah, mobil, atau laci. Namun tahukah anda asalnya kunci ?
Kunci tertua ditemukan di reruntuhan Istana Khorsabad dekat Niniwe. Maka, diduga kunci ada sejak 4.000 tahun silam. Bentuknya sederhana, serupa palang pintu rumah di pedesaan.
"Kunci" ini terdiri atas dua batang vertikal, satu horisontal, dan anak kunci. Bila palang horisontal dimasukkan di celah dua batang vertikal, dari batang vertikal pertama akan turun batang-batang ramping kecil yang akan masuk ke lubang-lubang bagian horisontal. Batang horisontal tertahan, pintu pun teralang.
Untuk membuka, dipakai anak kunci serupa sikat gigi. Cuma, bulunya diganti batang-batang pendek-ramping. Bila ditelusupkan di celah tengah batang vertikal pertama, batang-batang anak kunci akan mendongkrak batang-batang lubang pengunci sehingga palang horisontal lolos ditarik. Prinsip ini menjadi dasar pembuatan kunci pasak.
Dari para orang yang ada di negara Yunani yang  sudah menggunakan suatu kunci yang berbeda yang dengan menggunakan suatu baut yang di gunakan untuk mengancangkan kayu dan juga pokok yang langsung ke bagian dalam pintu tersebut. Kunci yang sudah di bentuk seperti sabut kayu itu yang sudah di manipulasi dan juga bisa mengangkat baut.
Kunci serupa juga dipakai di Jepang, Norwegia, dan Kepulauan Faroe. Malah di Mesir, India, dan Zanzibar kunci itu masih dipakai hingga kini.
Lubang anak kunci pertama kali dibuat oleh bangsa Yunani kuno pada gerendel kunci kayu dengan kokot yang ditanam di pintu. Anak kuncinya dari kayu berbentuk sabit panjang yang pas dengan konfigurasi lubang anak kunci. Gerakan anak kunci akan mengangkat pasak pengait. Alat ini sedikit sekali memberi pengamanan, fungsinya sekadar sebagai penghambat.
Untuk kunci logam, bangsa Romawi kunolah yang pertama kali membuat. Prinsip kerjanya adalah menyempurnakan prinsip kunci Mesir. Pasak dibuat dalam berbagai ukuran dengan anak kunci yang sesuai. Lubang anak kunci pun dibuat tak lazim, agar anak kunci sulit ditiru. Agar ukuran anak kunci berukuran kecil dan memudahkan membuka kunci, dipasang pegas perunggu penopang pasak. Perkembangan keterampilan memunculkan kunci yang dihiasi dengan indah. Bentuk kunci pun disamarkan, semisal berbentuk binatang, bunga, dan burung. Selain bagian kunci, anak kuncinya juga dihiasi, malah sering dipakai sebagai liontin.
Bangsa Romawi juga berjasa sebagai penemu kunci ward (pengalang), yang prinsip kerjanya masih dipakai sampai sekarang. Karena dibuat dari logam, kunci dan anak kuncinya bisa dibuat kecil. Beberapa kunci dirancang sebagai cincin. Namun, konstruksi ini bisa dibongkar, cukup dengan menelusupkan sekeping logam.
Prinsip kerja kunci ini lalu diterapkan pada kunci jinjing atau gembok. Gembok hias terdapat di masyarakat Cina, Turki, India Timur, dan Rusia. Ada banyak rancangan aneh, misalnya figur dewa, bunga, atau satwa. Kadang lubang anak kuncinya pun dipasang di bagian tersembunyi.
Kunci menyebar ke Eropa. Bentuknya pun makin rumit karena seniman bersaing ingin diakui keahliannya. Ada pula kunci yang dirancang bisa mengeluarkan jarum, anak panah beracun, atau pisau bila dicolok anak kunci palsu.
Beberapa nama terkenal soal perkuncian antara lain Linus Yale, Jr., yang menemukan kunci pin-tumbler (pasak). Kunci pertama dipatenkan tahun 1861, dan disempurnakan tahun 1865. Temuan pria Connecticut itu dinilai sebagai salah satu kunci paling aman dan pertama kali diproduksi secara massal.
Sosok lain adalah Robert Barron dari Inggris yang tahun 1778 menemukan kunci lever-tumbler, penyempurnaan dari kunci ward. Warga Inggris lain, Joseph Brahmah, tahun 1784 mematenkan kunci dengan anak kunci silinder. Tahun 1818 Jeremiah Chubb menyempurnakan kunci Barron menjadi kunci detektor.
Gara-gara kunci jadi ringkas, orang sekarang tak punya senjata ampuh untuk menaklukkan tamu tak diundang. Palang pintulah senjata ampuh itu.
(Dari berbagai sumber)
©johnberek99.blogspot.com

Senin, 23 Maret 2015

Pria Sejati




Tuhan, jadikanlah saya sebagai seorang pria yang selalu rendah hati dan murah hati serta berwawasan luas dan baik hati. Seorang yang selalu mengerti tentang mana yang adil dan benar, dan tidak hanya mencari keuntungan diri sendiri.

Tuhan, jadikanlah saya seorang pria yang selalu menolong sesama untuk menemukan jati diri mereka dan jauhilah saya dari perbuatan jahat, yang selalu khawatir tentang ketidakmampuanku, dan tidak mempedulikan apakah orang lain menghargai kemampuanku atau tidak.

Tuhan, jadikanlah saya seorang pria yang selalu menuntut diriku sendiri dan tidak menuntut orang lain, yang mempunyai teman yang banyak, dan tidak hanya sekedar menjadi pengikut.

Tuhan, jadikanlah saya seorang pria yang selalu mempraktekkan apa yang dikatakan, bukan mengatakan apa yang dipraktekkan. Seorang pria yang sedikit berbicara namun banyak bekerja.
©johnberek99.blogspot.com